Home About Us Links Contact Us
User ID
Password
 
Daftar | Lupa password
SEMINAR AWAM IKCC JAKARTA
Hadiri Seminar Awam,Minggu,13 April 2014,bersama dr. Djoko Wibisono,Sp.PD-KGH dgn tema "Komplikasi Penyakit Ginjal",RS Mitra Keluarga Kelapa Gading,pk.08.30-12.00 WIB.
More news ...
 
« April 2014 »
M S S R K J S
30 31 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
 13  14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 1 2 3

"Transplnatasi Ginjal: Mandiri dengan Donor Ginjal" (RS Cikini, Sabtu 31 Mei 2008)

Penderita penyakit ginjal kronik terus meningkat jumlahnya. Penyebab penyakit ini juga terus bertambah, yaitu hipertensi dan diabetes melitus, kedua penyakit tersebut menjadi pemicu yang paling berpotensi bagi munculnya penyakit ginjal kronik. Gaya hidup modern yang gemar melahap makanan dengan kadar garam, gula, lemak serta kebiasaan merokok dan minum alkohol, juga menjadi pemicu penyakit tersebut. Pada penyakit ginjal kronis diperlukan terapi pengganti ginjal, karena ginjal yang ada sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Terapi pengganti ginjal yang umum digunakan adalah dialisis (dapat berupa hemodialisis (HD) atau peritoneal dialisis (PD)) dan transplantasi ginjal.

Sayangnya tindakan dialisis tidak mungkin dapat menggantikan seluruh fungsi ginjal. Fungsi pembentukan darah dan metabolisme tulang tidak dapat digantikan dengan dialisis. Karena itulah transplantasi ginjal merupakan pilihan paling ideal dan paling tepat. Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai transplantasi ginjal, IKCC dalam rangka merayakan Hari Ulang tahun (HUT) yang ke-4 bekerjasama dengan RS. PGI Cikini mengadakan seminar awam bertemakan ”Transplantasi Ginjal: Mandiri dengan Donor Ginjal” dengan Dr. Tunggul. D. Situmorang, Sp.PD-KGH sebagai pembicara.

”Transplantasi ginjal adalah memindahkan ginjal sehat kepada pasien gagal ginjal terminal (GGT). Di Indonesia transplantasi ginjal baru dilakukan tahun 1977 di RSCM dan RS PGI Cikini atas prakarsa Prof. Dr. R. P. Sidabutar (alm). Walaupun sudah 31 tahun, perkembangannya cukup memprihatinkan melihat jumlah transplantasi ginjal di seluruh Indonesia sampai saat ini belum mencapai angka lima ratus dari 10 rumah sakit yang pernah melaksanakan transplantasi ginjal” demikian dikatakan Dr. Tunggul di awal presentasinya.

Keberhasilan transplantasi ginjal sangat ditentukan oleh perencanaan, persiapan dan koordinasi yang baik oleh tim transplantasi, mulai dari persiapan, saat melakukannya dan pasca operasi. Evaluasi medik untuk calon donor dan resipien perlu dilakukan secara seksama. Tidak semua pasien cocok untuk transplantasi dan tidak selamanya siap setiap saat. Hal yang sangat penting dan utama adalah tersedianya donor yang sesuai dan hal ini bukanlah sesuatu yang mudah. Donor ginjal bisa berasal dari orang hidup (living donor) atau jenazah (cadaveric donor).

Umumnya donor hidup mempunyai hubungan darah langsung dengan resipien. Donor yang tidak mempunyai hubungan darah langsung atau adanya hubungan emosi juga dapat diterima dengan syarat-syarat khusus. Realisasi donor jenazah di Indonesia agaknya masih jauh dari kenyataan kendati kesepakatan untuk itu oleh para ahli, tokoh masyarakat dan rohaniawan mewakili semua agama yang ada di Indonesia telah ditandatangani sejak tahun 1995 yang dikenal sebagai ”Kesepakatan Kemayoran”. Karenanya sumber donor ginjal yang diharapkan hanyalah kerabat atau orang yang dengan sukarela memberikan satu ginjalnya. Keengganan bahkan terkesan ketakutan untuk menjadi donor ginjal mungkin disebabkan kurangnya sosialisasi dan informasi yang memadai akan hal ini.

Donor harus dipersiapkan mental, sehat jasmani dan dinyatakan mampu hidup normal dengan hanya satu ginjal sesudah dia donasikan salah satu ginjalnya. Bila kedua ginjal berbeda maka ginjal yang paling baiklah yang tinggal pada si donor. Untuk itu perlu diperiksa fisik, laboratorium dan pemeriksaan penunjang secara lengkap oleh dokter ahli tim transplantasi. Kriteria eksklusi donor (tidak bisa donor) :
1. umur < 18 tahun atau > 56 tahun
2. hipertensi (> 140/90 mmHg atau dalam pengobatan)
3. diabetes
4. terdapat protein dalam urin
5. riwayat batu ginjal
6. fungsi ginjal < 80 ml/ menit
7. hematuri atau kelainan urologi lain
8. penyakit kronis atau keganasan
9. obesitas (> 30% BB)
10. gangguan psikiatri
11. riwayat gangguan darah
12. riwayat sangat kuat adanya keluarga diabetes, sakit ginjal dan hipertensi.

Persiapan resipien umumnya sama dengan persiapan donor. Hal khusus yang dilakukan adalah mencari dan mengobati seluruh kemungkinan sumber infeksi misalnya gigi, THT, dll. Endoskopi saluran cerna atas rutin dikerjakan untuk mencari sumber yang potensial akan berdarah baik karena penyakitnya maupun nantinya pasca transplantasi karena obat-obatan.

Rejeksi (penolakan) terhadap ginjal baru bisa terjadi segera di meja operasi (rejeksi hiperakut), setelah beberapa hari – minggu (rekeksi akut) dan setelah beberapa bulan/ tahun (rejeksi kronis). Rejaksi akut sebagian besar dapat diatasi tapi rejeksi kronis umumnya tidak respon terhadap pengobatan. Rejeksi ini diobati dengan pemberian obat-obatan immunosupressi (azathioprine, prednisolone).

Pasca transplantasi ginjal pasien masih memerlukan obat-obatan setiap hari bahkan seumur hidupnya untuk mencegah penolakan ginjal baru oleh si penerima (resipien). Bila transplantasi ginjal tidak berhasil atau ginjal transplant tidak berfungsi lagi, pasien bisa kembali menjalani dialisis atau transplantasi ginjal ulang (re-transplant).

Pengalaman menunjukkan bahwa kendala medik – teknis tidak lagi menjadi masalah yang utama. Kemampuan dan pengalaman dokter ahli bedah ginjal (Urologist) kita tidak lagi menjadi kendala dan sudah teruji seiring dengan waktu. Sarana, prasarana dan kelengkapan obat-obatan anti penolakan ginjal baru (imunosupressif drugs) juga bukan lagi kendala yang berarti. Kendala yang masih dirasakan adalah tingginya biaya karena harga obat-obatan tersebut cukup mahal. Namun dibandingkan dengan transplantasi di luar negeri, biaya transplantasi di dalam negeri jauh lebih murah secara bermakna. Bahkan dibandingkan dengan biaya dialisis yang terus menerus, maka biaya transplantasi yang berhasil juga lebih murah, sedangkan kualitas hidup yang dicapai lebih baik. Namun persepsi bahwa sesudah transplantasi semuanya selesai juga tidaklah tepat, karena pasien masih perlu kontrol secara periodik dan makan obat-obatan anti penolakan dengan teratur.

Dr. Tunggul menutup presentasinya dengan mengatakan bahwa, transplantasi ginjal pada pasien gagal ginjal terminal adalah pilihan yang paling ideal, tepat dan utama!

Sebelum memasuki sesi tanya jawab, Eva Riany pasien transplan dari RS. PGI Cikini membagikan pengalaman transplantasinya kepada peserta seminar. Pada kesempatan itu juga hadir sang donor yaitu Lidya yang merupakan adik kandung dari Eva. Mereka sungguh-sungguh memberikan inspirasi bagi para peserta yang hadir karena setelah proses transplantasi 6 tahun yang lalu, hingga saat ini keduanya dalam keadaan sehat tanpa keluhan apapun.

Acara seminar ditutup dengan perkenalan anggota pengurus IKCC yang baru serta dilanjutkan dengan acara perayaan hari ulang tahun IKCC yang ke-4, dimeriahkan dengan menyanyikan lagu ulang tahun yang dipimpin oleh Kris Biantoro selaku MC acara serta peniupan lilin dan pemotongan kue ulang tahun oleh pengurus IKCC. Sukses selalu untuk IKCC...!!

Other

Print Sendt
News
Articles
Membership
Photo Gallery
Calendar of Event
Renal Replacement Therapy
Consultation
Partners
Guestbook



Alamat Sekretariat: Gedung Ziebart Lt.2 Jl. Let. Jend. Suprapto Kav. 5 Cempaka Putih, Jakarta-10510
Tlp. 021-42873888 ext 1930, Fax 4241607 Email: sekretariat at ikcc dot or dot id
©2005 IKCC Jakarta. Hak Cipta Dilindungi Undang-undang